Penulis: petunjukzaman
Pada masa lalu, manusia menyangka bahawa binatang apatah lagi serangga
yang kecil hanyalah hidup berdasarkan gerakan rambang semata-mata bukan
mempunyai peraturan yang sistematik.
Namun setelah dicapainya kemajuan dan perkembangan pengetahuan tentang
dunia serangga, yang didasarkan pada ilmu fisiologi yang membahas fungsi
setiap anggota tubuh yang dimilikinya, juga ilmu genetik, para saintis
mendapatkan bahwa kehidupan serangga berjalan di atas dasar
fungsi-fungsi tertentu—sesuai dengan sifat genetik yang mengatur
perilakunya.
Salah satu jenis serangga yang menarik penelitian mereka adalah semut.
Di mana jenis serangga ini memiliki sistem kehidupan yang tertib yang
membatasi perilaku tiap-tiap anggota masyarakatnya. Untuk tempat
tinggalnya, semut biasanya hidup secara berkelompok di suatu tempat
tertentu. Di mana terkadang, sekelompok semut boleh memenuhi satu lembah
yang luas sebagai tempat tinggal mereka. Didalam al-Quran terdapat satu
surah yang dinamakan An-Naml (semut), tetapi umat Islam tidak membuat
perhatian mendalam terhadap serangga tersebut yang sebenarnya
mengandungi banyak pengajaran yang boleh diambil hingga menjadi jalan
penyelasaian bagi masalah yang komplek.
![]() |
Knapsack problem: The ants prefer the smaller drop of honey over the more abundant, but less nutritious, sugar |
Hasil penelitian mendalam ahli sains terhadap semut mereka akhirnya
dapat mencipta satu formulasi yang komplek bagi menyelesaikan masalah
komputer yang dinamakan Ant Colony Optimization Algorithm (ACO).
Algoritma semut diperkenalkan oleh Moyson dan Manderick dan secara
meluas dikembangkan oleh Marco Dorigo, merupakan teknik probabilistik
untuk menyelesaikan masalah komputasi dengan menemukan jalur terbaik
melalui grafik. Algoritma ini terinspirasi oleh perilaku semut dalam
menemukan jalur dari koloninya menuju makanan.
Pada dunia nyata, semut berkeliling secara rawak, dan ketika menemukan
makanan mereka kembali ke koloninya sambil memberikan tanda dengan jejak
pheromone. Jika semut-semut lain menemukan jalur tersebut,
mereka tidak akan bepergian dengan rawak lagi, melainkan akan mengikuti
jejak tersebut, kembali dan menguatkannya jika pada akhirnya merekapun
menemukan makanan.
Seiring waktu, bagaimanapun juga jejak pheromone akan menguap
(tersejat) dan akan mengurangi kekuatan daya tarikannya. Lebih lama
seekor semut pulang dan pergi melalui jalur tersebut, lebih lama
jugalah pheromone menguap. Sebagai perbandingan, sebuah jalur yang pendek akan berbaris lebih cepat, dan dengan demikian kerapatan pheromone akan tetap tinggi karena terletak pada jalur secepat penguapannya. Penguapan pheromone juga
mempunyai kelebihan untuk mencegah penumpuan pada penyelesaian secara
optimal di kawasan terhad. Jika tidak ada penguapan sama sekali, jalur
yang dipilih semut pertama akan cenderung menarik secara berlebihan
terhadap semut-semut yang mengikutinya. Pada keadaan yang demikian,
eksplorasi ruang penyelesaian akan terbatas.
Oleh karena itu, ketika seekor semut menemukan jalur yang baik (jalur
yang pendek) dari koloni ke sumber makanan, semut lainnya akan mengikuti
jalur tersebut, dan akhirnya semua semut akan mengikuti sebuah jalur
tunggal. Idea algoritma koloni semut adalah untuk meniru perilaku ini
melalui 'semut tiruan' berjalan sekitar grafik yang menunjukkan masalah
yang harus diselesaikan.
Algoritma optimisasi koloni semut telah digunakan untuk menghasilkan
penyelesaian yang menghampiri optimal pada masalah perjalanan penghantar
bagi mencari laluan yang terbaik. Algoritma semut lebih menguntungkan
daripada pendekatan penguatan tiruan (simulaten annealing) dan algoritma
genetik saat grafik mungkin berubah secara dinamik; algoritma koloni
semut dapat berjalan secara bertererusan dan menyesuaikan dengan
perubahan secara waktu nyata (real time). Hal ini menarik dalam routing jaringan dan sistem pengangkutan bandar.
Berikut ialah senarai penyelesaian menggunakan kaedah Algoritma Semut;
Scheduling problem
- Job-shop scheduling problem (JSP)
- Open-shop scheduling problem (OSP)
- Permutation flow shop problem (PFSP)
- Single machine total tardiness problem (SMTTP)
- Single machine total weighted tardiness problem (SMTWTP)
- Resource-constrained project scheduling problem (RCPSP)
- Group-shop scheduling problem (GSP)
- Single-machine total tardiness problem with sequence dependent setup times (SMTTPDST)
- Multistage Flowshop Scheduling Problem (MFSP) with sequence dependent setup/changeover times
- Capacitated vehicle routing problem (CVRP)
- Multi-depot vehicle routing problem (MDVRP)
- Period vehicle routing problem (PVRP)
- Split delivery vehicle routing problem (SDVRP)
- Stochastic vehicle routing problem (SVRP)
- Vehicle routing problem with pick-up and delivery (VRPPD)
- Vehicle routing problem with time windows (VRPTW)
- Time Dependent Vehicle Routing Problem with Time Windows (TDVRPTW)
- Vehicle Routing Problem with Time Windows and Multiple Service Workers (VRPTWMS)
- Quadratic assignment problem (QAP)
- Generalized assignment problem (GAP)
- Frequency assignment problem (FAP)
- Redundancy allocation problem (RAP)
- Set cover problem (SCP)
- Partition problem (SPP)
- Weight constrained graph tree partition problem (WCGTPP)
- Arc-weighted l-cardinality tree problem (AWlCTP)
- Multiple knapsack problem (MKP)
- Maximum independent set problem (MIS)
- Classification
- Connection-oriented network routing
- Connectionless network routing
- Data mining
- Discounted cash flows in project scheduling
- Distributed Information Retrieval
- Grid Workflow Scheduling Problem
- Image processing
- Intelligent testing system
- System identification
- Protein Folding
- Power Electronic Circuit Design
Inilah mukjizat al-Quran di samping keindahan serta kecanggihan gaya
bahasanya, adalah gagasan futuristiknya mengenai kebenaran ilmiah yang
baru kemudian dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan moden. Semakin maju
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka semakin terbuktilah
kebenaran al-Quran.
Al-Quran, secara menakjubkan telah membuka tabir rahsia kehidupan semut
ini, sejak empat belas abad yang lalu. Hal itu kita dapatkan dalam
firman Allah SWT di surah An-Naml ayat 18: "Hingga apabila mereka sampai
di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut, masuklah ke
dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya. Sedangkan mereka tidak menyadari."
Dalam ayat di atas, kita mendapatkan bahwa al-Quran telah membicarakan
tentang sistematika yang mengatur kehidupan semut yang berjalan sesuai
dengan sistem yang telah disepakati di antara mereka. Termasuk tentang
struktur tempat tinggal mereka yang dibangun dengan teknik aturan yang
teliti, disesuaikan dengan lingkungan di mana mereka tinggal. Hal ini
tercermin dalam firman Allah SWT: "udkhuluu masaakinakum".
Demikianlah, semua apa yang dijelaskan di atas, merupakan bukti kebenaran bagi al-Quran sebagai wahyu Ilahi.
Rujukan:
0 comments:
Catat Ulasan